Jumat, 26 Juni 2009

"Yang Menyentuh Yang Mendebarkan"

KEMENANGAN BESAR
(TAHUN KE-6 HIJRIYAH)

Dalam tahun ke-6 Hijriyah tercapailah kesepakatan untuk membuat perjanjian antara para pemimpin kaum kafir Makkah dengan Nabi Muhammad (SAW) di sebuah wilayah bernama Hudaibiyah yang terletak diluar kota Makkah. Tempat ini sekarang benama Syamisah. Banyak butir-butir kesepakatan dalam perjanjian ini yang sepintas tampak merugikan Muslim dan membingungkan bagi sebagian sahabat Rasulullah. Namun, hal ini kemudian berubah membuahkan kemenangan luar biasa bagi Ummat Islam dan sekaligus membuktikan bahwa Rasulullah (SAW) sangat bijak dalam pemikiran dan berwawasan jauh ke depan.

Perjanjian ini juga memberikan bukti bahwa:

1. Musuh-musuh Allah (SWT) merencanakan tipu daya dan Allah (SWT) pun merencanakan. Dan sesungguhnya Allah (SWT) adalah yang Terbaik dalam merencanakan. Surah Al-Anfal, Ayat-30.

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

2. Nabi Muhammad (SAW) tak pernah mengatakan sesuatu hal yang religius melainkan itu telah diwahyukan Allah (SWT) kepada beliau. Surah An-Najm, Ayat 3-4

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

3. Allah (SWT) telah memuliakan para sahabat Rasulullah (SAW) karena Dia telah mengetahui ketulusan mereka dan apa yang menjadi isi hati mereka. Allah (SWT) telah memasukkan ketenangan dan kesabaran kedalam hati mereka dikala menghadapi saat-saat kritis dan membingungkan dan menjadikan mereka condong untuk berlaku santun dan bersahaja di saat-saat sedemikian genting.

Allah (SWT) memberikan penghargaan tinggi terhadap kualitas mereka dan telah mengabarkan balasan atas mereka untuk generasi-generasi setelahnya. Surah Al-Fath, Ayat-26:

dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.

Oleh sebab itu, sangat mengherankan bagi saya bahwasanya sebagian orang berani mengatakan hal-hal yang tak sepatutnya mereka tujukan kepada beberapa sahabat Rasulullah (SAW) sedangkan Allah (SWT) jelas-jelas menyatakan pujian-Nya terhadap mereka didalam Al-Qur'an.

Sekarang, marilah kita telusuri rangkaian peristiwa yang berlangsung kala itu. Para penyembah berhala di Makkah telah mengusir Rasulullah (SAW) dan para sahabat dan pengikut beliau dari kampung halaman mereka sendiri di Makkah hanya karena sebuah alasan yakni, karena mereka menyembah Tuhan Yang Esa.

Kaum kafir itu juga menyulut tiga peperangan besar melawan orang-orang mukmin (Badar, Uhud dan Ahzab) dengan tujuan mengenyahkan ummat Islam dari permukaan bumi. Sementara itu, Rasulullah (SAW) memperoleh mimpi bahwa beliau dan para sahabat sedang berada di Makkah dalam rangka ibadah Umrah. Namun demikian tidak cukup jelas kapan terjadinya peristiwa (didalam mimpi) itu. Rasulullah (SAW) pun menceritakan perihal mimpi beliau ini kepada para sahabat di Madinah. Karena mimpi Rasulullah (SAW) selalu benar, maka beliau memaklumatkan persiapan perjalanan ibadah Umrah. Bahkan penduduk desa-desa disekitar Madinah pun diajak serta.

Sebagian besar orang-orang dusun itu tidak bersedia, malahan meniupkan kabar bahwa Rasulullah (SAW) bermaksud membawa mereka kedalam peperangan melawan kaum Quraisy Makkah yang begitu perkasa, karena beliau bermaksud menjerumuskan mereka dalam kehancuran. Alqur’an Surah Al-Fath ayat-12:

Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.

Rasulullah (SAW) berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk ibadah Umrah bersama 1400 sahabat. Mereka telah berpakaian Ihram dan membawa binatang ternak untuk korban. Manakala rombongan telah mencapai pinggiran kota Makkah, mereka dapati kaum kafir dengan persenjataan lengkap menghentikan perjalanan mereka dan melarang mereka memasuki Makkah. Khalid bin Walid; yang pada waktu itu belum beriman; dengan pasukannya telah siap menyerang rombongan Muslimin dan mereka juga telah menduduki tempat-tempat yang terdapat mata air.

SATU MUKJIZAT

Nabi Muhammad (SAW) menghindar dari Khalid bin Walid menuju tempat yang tidak terdapat air.

Beliau menemukan sebuah sumur yang masih ada bekas jejak air di dasarnya. Beliau masukkan sedikit air ke mulut beliau lalu disemburkannya kedalam sumur, lalu beliau minta salah seorang sahabat untuk membidikkan anak panah beliau (SAW) ke dasar sumur.

Para sahabat pun kemudian menyaksikan air memancar dari dasar sumur itu sampai setinggi bibir sumur. Maka rombongan Muslimin pun mengisi penuh tempat-tempat air mereka dan mendirikan shalat Dzuhur. Khalid bin Walid berkata kepada pasukannya, “Kita telah menyia-siakan kesempatan emas.

Seharusnya tadi kita serang mereka selagi mereka sibuk shalat. Kita akan serang mereka di waktu mereka mengerjakan shalat berikutnya.” Pada waktu itu Allah (SWT) pun mewahyukan petunjuk-Nya kepada Muslimin perihal tata-cara mendirikan shalat sewaktu dalam keadaan bahaya semisal perang.

Shalat semacam ini disebut Shalatul-Khauf.
UTSMAN (RA) YANG DIHORMATI

Utsman (RA) adalah sosok yang dihormati oleh kalangan mukminin maupun oleh orang-orang kafir. Rasulullah (SAW) mengutusnya sebagai duta Mukminin ke Makkah, dalam rangka memberikan penjelasan kepada para pemimpin kafir Quraisy bahwasanya kedatangan rombongan Mukminin adalah untuk melaksanakan ibadah Umrah, bukannya untuk berperang melawan mereka. Orang-orang Quraisy telah mengambil keputusan bahwa mereka melarang orang-orang Muslim memasuki kota Makkah.

Namun mereka mengijinkan Utsman (RA) mengerjakan Umrah. Utsman (RA) pun berkata," Aku tak kan berumrah kecuali Rasulullah (SAW) mengerjakannya." Kaum Quraisy menempatkan limapuluh orang pasukan mereka pada jarak yang begitu dekat dengan rombongan Muslim agar bila ada kesempatan mereka bisa dengan mendadak menyerang Nabi (SAW).

Namun, Muhammad bin Muslima (RA), pengawal Beliau (SAW), berhasil menangkap limapuluh orang itu dan menghadapkan mereka kepada Nabi (SAW). Begitu kejadian ini diketahui oleh orang-orang Quraisy, maka mereka pun menahan Utsman (RA) dan sepuluh orang Mukmin lain yang telah berhasil memasuki Makkah sebagai sandera. Situasi menegangkan pun tak terelakkan. Masing-masing pihak bisa saja dengan mudah membunuh sandera/tawanan yang ada di tangan mereka masing-masing.

Tertiuplah kabar-burung bahwasanya Utsman (RA) dan 10 Muslim yang ditahan telah dibunuh oleh kaum kafir.

BAI’AT UR RIDWAN (SUMPAH SETIA)

Mendengar berita ini Rasulullah (SAW) segera mengumpulkan seluruh Mukminin dibawah sebuah pohon dan mengambil sumpah mereka untuk bersedia berjihad memerangi orang-orang kafir. Maka segera saja setiap muslim satu-persatu berbai’at (bersumpah) dengan cara meletakkan tangannya ke atas tangan Rasulullah (SAW). Terakhir, beliau (SAW) meletakkan satu tangan beliau sendiri ke atas tangan beliau yang lain sambil mengatakan bahwa yang satu adalah tangan Utsman (RA), dengan demikan beliau telah mewakili Utsman (RA) berbai’at.

Ini adalah salah satu cara penghormatan unik terhadap Utsman (RA), dimana Rasulullah (SAW) mengibaratkan tangan beliau sebagai tangan Utsman (RA). Sementara itu, Utsman (RA) telah kembali ke tengah-tengah rombongan mukminin, maka iapun bisa berbai’at untuk dirinya sendiri. Allah (SWT) sangat menyukai sumpah yang telah diucapkan oleh para sahabat ini. Mari kita sima Surah Al-Fath Ayat-18.

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Mereka yang ikut serta dalam peristiwa Bai’at ur ridwan ini telah diberi penghormatan besar oleh Allah (SWT) dan Rasul-Nya (SAW). Diriwayatkan oleh Jabir (RA) bahwasanya Rasulullah (SAW) bersabda,

"Kalian adalah adalah manusia-manusia terbaik yang hidup di muka bumi." (Sahihain)

Ummu Basyar (RA) meriwayatkan Rasulullah (SAW) bersabda, "Mereka yang telah berikrar dibawah pohon ini tidak akan masuk Neraka." (Muslim)

Dengan demikian mereka memperoleh nikmat Surga atas ikrar yang telah mereka ucapkan, sebagaimana Allah juga telah menjanjikan Surga bagi setiap mukmin yang ikut serta dalam perang Badar.

PERTOLONGAN ALLAH (SWT)

Allah (SWT) menumbuhkan rasa takut dalam hati kaum kafir Quraisy. Mereka mengirimkan tiga orang pemimpinnya, Suhail bin Amr, Hawaitab and Makraz untuk berunding dengan Rasulullah (SAW). Ketiga pimpinan ini menyampaikan kepada Nabi (SAW),

"Utsman (RA) dan sepuluh orang Muslim yang lain tidak kami bunuh. Kami akan kembalikan mereka kepadamu jika limupuluh anggota kami pun kamu kembalikan kepada kami."

Demikianlah, Allah (SWT) telah menyelamatkan mereka dari saling melukai. Surah Al-Fath Ayat-24:

Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka ditengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Perwakilan pemuka Quraisy yang menemui Rasulullah (SAW) juga dapat menyaksikan beberapa keistimewaan yang menggambarkan betapa para mukminin sangat mencintai, menghormati, dan setia kepada junjungan mereka Rasulullah (SAW). Setelah kembali ke Makkah, maka para pimpinan Quraisy ini menyarankan kepada warga mereka bahwasanya hal terbaik bagi mereka agar tidak hilang-muka adalah dengan mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan pihak Muhammad (SAW).

”Jika Muslimin memasuki kota Makkah dengan kekuatan penuh maka seluruh masyarakat Arab yang lain pastilah akan menertawakan kita.”

Demikian kata pemimpin Quraisy menegaskan. Lanjutnya,

“Sebaiknya kita minta mereka untuk kembali ke Madinah tanpa mengerjakan Umrah untuk sekarang ini. Namun kita ijinkan mereka untuk melaksanakan Umrah tahun depan dan mereka boleh tinggal di Makkah selama tiga hari.”

Usulan ini diterima oleh orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengutus Suhaid bin Umar untuk kembali menemui Muhammad (SAW) guna membuat perjanjian tertulis dengan syarat-syarat sebagaiman mereka utarakan diatas. Suhail mengajukan persyaratan isi perjanjian sebagai berikut;

USULAN ISI PERJANJIAN HUDAIBIYAH

1. Muhammad (SAW) dan para pengikutnya tidak akan masuk kota Makkah pada tahun ini. Mereka diijinkan berkunjung ke Makkah pada tahun depan selama tiga hari.

2. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang satu sama lain selama sepuluh tahun.

3. Suku-suku yang lain bebas memilih untuk bergabung dengan Muslimin ataupun dengan kaum Quraisy sebagai kawan mereka.

4. Jika seorang dari Quraisy membelot kepada pihak Muslim, maka Muhammad (SAW) akan mengembalikan orang tersebut kepada kaum Quraisy. Namun, jika seseorang membelot dari Muhammad (SAW) dan meminta perlindungan kepada kaum Quraisy, maka orang tersebut tidak akan dikembalikan kepada Muhammad (SAW).

SAAT-SAAT YANG MENYENTUH HATI

Rasulullah (SAW) dan Suhail bin Amr sepakat atas usulan persyaratan diatas setelah melalui pembicaraan yang berlangsung dalam suasana panas diantara kedua pihak. Rasulullah pun memanggil Ali (RA) dan mulailah beliau mendiktekan kalimat-kalimat perjanjian untuk ditulis.

Rasulullah (SAW) berkata kepada Ali (RA), "Tulislah, Bismillahirrahmanir rahim"

Suhail menolak dan berkata, "Kami tidak mengenal Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Awali saja dengan tulisan Bismikallah, yang maksudnya Wahai Allah kami awali ini dengan nama-Mu."

Rasulullah (SAW) meminta Ali (RA) menuliskan seperti yang dikatakan Suhail. Kemudian Rasulullah (SAW) memerintahkan Ali menulis, "Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan kaum Quraisy."

Suhail menyela, "Jika kami menerimamu sebagai Utusan Allah, tentu kami tidak akan menghalangimu melakukan Umrah dan tidak pula kami beberapa kali memerangimu. Tuliskan saja Muhammad bin Abdullah."

Mendengar itu, Nabi (SAW) berkata kepada to Ali (RA), "Tuliskan apa yang dikatakan Suhail dan hapuslah kata Rasulullah. Ali (RA) tidak mau menghapusnya. Usaid bin Hudhair (RA) dan Saad bin Ibada (RA) juga menahan tangan Ali (RA) seraya berkata, " Jangan kamu hapus. Jika orang Quraisy tidak setuju maka biarlah kita putuskan urusan diantara kita ini dengan pedang saja."

Rasulullah (SAW) adalah seorang yang buta aksara dan tak pernah sekalipun melakukan tulis-menulis dengan tangan beliau sendiri. Namun saat itu Allah (SWT) menganugerahi kemampuan kepada beliau (SAW), diambilnya kertas dari tangan Ali (RA) dan beliau gantikan sendiri kata-kata yang telah ditulis Ali (RA) dengan ‘Muhammad bin Abdullah’ sebagaimana dikehendaki Suhail. Mukminin pun kecewa dengan hal ini, namun mereka pun pasrah pada pilihan Rasulullah di saat-saat kritis itu.

Selanjutnya Rasulullah (SAW) minta kepada Suhail agar beliau (SAW) diperbolehkan mengelilingi Ka’bah pada tahun ini. Suhail menolak mentah-mentah permintaan itu seraya mengatakan bahwa orang-orang Arab akan menertawakan kaum Quraisy lantaran nampak bahwa mereka lebih lemah daripada Muhammad (SAW).

Para Muslimin, khususnya Umar (RA), memprotes keras butir ke-empat perjanjian ini, namun Rasulullah (SAW) bahkan tidak keberatan dengan hal itu.

UJIAN BAGI PARA SAHABAT

Manakala kaum Quraisy menolak kata Bismillah dan Rasulullah, nampak para sahabat mulai bersilat-lidah diantara mereka sendiri lantaran terdapat perbedaan pandangan diantara mereka. Namun mereka ketegangan itupun surut dan dapat menerima pilihan yang telah diambil oleh Rasulullah (SAW).

Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya menyerahkan keputusan pada Rasulullah (SAW). Sewaktu Rasulullah (SAW) meminta mereka berikrar untuk berperang, mereka pun melaksanakannya dengan sepenuh hati. Ketika Rasulullah (SAW) menetapkan pilihan diatas untuk menghindari pertempuran, sekali lagi para sahabat menyerahkan sepenuhnya pada pilihan dan keinginan Rasulullah (SAW). Allah (SWT) menyukai kepatuhan mereka kepada Rasul-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya, surah Al-Fath Ayat-26.

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

UJIAN SEKETIKA ATAS PERJANJIAN

Abu Jundal (RA), anak Suhail bin Amr, telah memeluk Islam di Makkah. Suhail, sang ayah, memenjarakannya di Makkah dan menyiksanya setiap hari. Entah bagaimana, Abu Jundal (RA) bisa melarikan diri dari Makkah dan tiba ditempat dimana perjanjian sedang dilakukan.

Dengan kerendahan hati ia memohon perlindungan kepada Rasulullah (SAW). Suhail pun menolak, katanya, "Ini bertentangan dengan isi perjanjian. Jika tak engkau kembalikan ia kepadaku, maka aku takkan menandatangani perjanjian ini."

Berkali-kali Rasulullah (SAW) meminta agar Suhail merelakan Abu Jundal (RA) untuk tetap bersama ummat Muslim. Suhail menolak dan menampar wajah Abu Jundal. Ia tarik sang anak pada bajunya dan dikumpulkan ia bersama para penyembah berhala. Rasulullah berkata kepada Abu Jundal,

"Bersabarlah, Allah akan menyegerakan kemudahan bagimu dan ummat Muslim yang lemah lainnya yang berada di Makkah. Kami telah mengadakan perjanjian dengan kaum Quraisy. Kami tak hendak merusak janji."

Akhirnya perjanjian ditandatangani kedua belah pihak. Rasulullah (SAW) menyembelih ternaknya dan menanggalkan pakaian Ihram. Para sahabat pun melakukan hal yang sama dan selanjutnya memulai perjalanan kembali ke Madinah setelah sembilan belas hari berada di Hudaibiyah.

SATU LAGI MUKJIZAT

Ketika rombongan Muslimin sampai di Isfan dalam perjalanan pulang ke Madinah, persediaan makanan mereka telah sangat menipis. Rasulullah (SAW) menghamparkan alas berukuran besar keatas tanah dan meminta para sahabat meletakkan keatas alas itu sekecil apapun makanan yang masih mereka miliki. Manakala semua yang tersisa telah terkumpul, Rasulullah (SAW) berdoa memohon pertolongan Alah (SWT) kemudian mengundang semua orang untuk makan makanan yang tersedia diatas alas.

Seribu empat ratus sahabat pun makan sampai kenyang dan juga telah mengisi penuh tempat makanan mereka untuk bekal di perjalanan selanjutnya. Ternyata masih banyak kelebihan makanan yang tertinggal pada alas itu. Rasulullah (SAW) sangat gembira mendapati keberkahan yang diberikan Allah (SWT) ini.

BUAH DARI PERJANJIAN

Perjanjian Hudaibiyah telah membuahkan konsekuensi dalam banyak hal yang berjangkauan jauh ke depan.

1. Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, Ummat Muslim dapat memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah lebih luas dan mencapai wilayah yang jauh. Rasulullah (SAW) mengirim surat kepada Raja Najashi di Habasyah, Raja Maqoqas di Mesir, Kisra’ di Persia, Kaisar di Romawi, Penguasa Bahrain, Penguasa Yamamah, Penguasa Damaskus dan Penguasa Amman.

2. Kaum Quraisy yang sejauh ini bersusah-payah bekerja untuk menghancurkan Ummat Islam, dengan menyetujui perjanjian ini berarti bahwa, didalam hati, mereka telah mengakui keperkasaan Ummat Muslim.

3. Semua bangsa Arab memiliki keleluasaan untuk mengirimkan utusan mereka kepada Ummat Muslim. Hal ini berarti pula sebuah kekalahan bagi kaum Quraisy, sebab selama ini mereka selalu menghalangi penyebaran Islam kepada suku-suku dari bangsa Arab.

4. Selama berlangsungnya negosiasi isi perjanjian, banyak pemimpin Quraisy yang berpengaruh bertemu dengan Rasulullah (SAW). Peristiwa ini telah menanamkan nilai-nilai Islami ke dalam hati mereka, sehingga banyak diantara mereka yang di kemudian hari pun memeluk Islam. Termasuk juga Suhail bin Amr.

5. Kaum Quraisy yang sejauh ini berketetapan untuk tidak akan pernah membiarkan Ummat Muslim masuk ke kota Makkah kapanpun juga, dengan adanya perjanjian ini berarti telah mencabut sendiri larangan mereka. Dengan demikian mereka telah menderita kekalahan dari dalam kelompok mereka sendiri.

6. Perjanjian ini telah meratakan jalan untuk penaklukan Makkah. Kemudian terjadilah penaklukan itu sekitar dua puluh satu bulan terhitung sejak disepakatinya perjanjian. Allah (SWT) mewahyukan kemenangan ini didalam Surah Al-Fath, Ayat-1:

Sesengguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.

Banyak rombongan perwakilan dari berbagai daerah berkunjung ke Madinah, dan banyak orang yang selanjutnya memeluk Islam. Sebagai gambaran nyata, dua puluh satu bulan setelah penandatanganan perjanjian (pada waktu penaklukan Makkah) pasukan muslim berjumlah sepuluh ribu orang, jauh lebih besar dibanding sejumlah seribu empat ratus orang pada waktu perjanjian Hudaibiyah.

7. Surah Al-Fath pun diturunkan. Kandungan surah ini tidak hanya terbatas pada prediksi atas berbagai penaklukan dan besarnya harta –benda hasil penaklukan itu, lebih dari itu semua adalah pernyataan bahwasanya Islam akan mengungguli agama-agama yang lain. Perhatikan Surah Al-Fath, Ayat-28 :

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan- Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

8. Yang sangat penting adalah menggaris-bawahi pernyataan Allah (SWT) didalam Surah Al-Fath, Ayat-29, bahwasanya:

Muhammad adalah Utusan (Rasul) Allah. Oleh karena itu penghapusan sebutan ‘Rasulullah’ tidaklah menjadi soal. Ayat-29 dari Surah Al-Fath ini akan selalu berkumandang hingga datang hari kiamat kelak, dan sudah cukup sebagai bukti bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.

9. Ibadah Umrah yang terlewatkan ditahun itu terlaksana pada tahun berikutnya. Ini membuktikan bahwa mimpi Nabi (SAW) adalah mimpi yang benar, didalam mimpi itu tidak tidak terdapat gambaran kapan akan berlangsung. Surah Al-Fath, Ayat-27.

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat..

Perhatikan bahwa dalam ayat ini Allah (SWT) juga menggunakan kata insya Allah; walaupun Dia Maha Mengetahui segala sesuatu; ini adalah pengajaran Allah (SWT) kepada kita agar menggunakan kata tersebut dalam semua pernyataan yang kita ucapkan. Pengajaran serupa juga terdapat dalam Surah Al-Kahfi, Surah Al-Qalam dan Surah Ash-Shaffat.

10. Proses tercapainya kesepakatan damai memperkuat tingkat keimanan para sahabat. Dalam hal ini iman dalam pengertian kepatuhan kepada Allah (SWT) and Rasul-Nya (SAW). Para sahabat telah menunjukkan kepatuhan yang dimaksud, tanpa menimbang suka atau tidak suka. Perhatikanlah Surah. Al- Fath , Ayat-4:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Begitulah, Allah (SWT) mencintai para sahabat Rasulullah (SAW).

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasul Radhiyallahu 'anhum sebagaimana hal ini telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika mengkisahkan Muhajirin dan Anshar dan pujian-pujian terhadap mereka.


Author :Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated :Ir. Gusti Noor Barliandjaja


Baca lanjutannya Yuk...

Kamis, 21 Mei 2009

"Menolak Bidadari"

Sungguh, saya tak pernah benar-benar tahu, apa kesan suami yang paling
dalam tentang saya. Saya pernah berpikir mungkin saya bukan perempuan yang
terlalu istimewa baginya karena sepanjang hidupnya suami saya banyak bertemu
perempuan hebat: cantik, pintar, keturunan baik-baik dan tentu juga
sholihat. Jadi berapa nilai saya sebenarnya di matanya?

Namun menyadari bahwa ia toh memilih saya, tentu ada sesuatu pada saya.
Dulu, ketika baru menikah ia pernah bilang bahwa kelebihan saya dibandingkan
banyak perempuan lain yang ia temui, yang sangat menonjol adalah karakter
saya yang kuat. Waktu itu saya hanya mengernyitkan kening sembari tersenyum.
Karakter? Kuat?

Suami saya orang yang sangat baik hati.

"Tapi maaf ya sayang, aku tidak romantis," ucapnya yang rata-rata saya
dengar setahun sekali.

Ya, ia misalnya, tak pernah mengajak saya pergi berlibur berdua di suatu
tempat terpencil nan indah, atau membawakan seikat atau setangkai saja
bunga. Ia juga tak pernah menciptakan puisi walau sebaris untuk saya.
Candle light dinner? Pernah, dua kali dalam 12 tahun. Tapi bagaimana pun,
saya tahu ia selalu mencintai saya. Ia selalu siap untuk saya...meski ia
jarang menyatakan secara lisan....

Namun begitulah perempuan, bukan? Selalu ingin tahu setiap saat. Hari ini
sebesar apa cintanya padaku? bagaimana kesannya padaku? Apakah lebih baik
dari kemarin? Bertambah? Berkurang?

Saat-saat kami berdua, saya sering mencoba menangkap sesuatu di matanya:
diri saya. Sedalam apa saya menghunjam di mata, juga batinnya? Sejauh mana
saya mampu mengesankannya? Seluas apa cintanya...?

Begitu juga, beberapa hari lalu, saat kami pulang bersama. Waktu-waktu
seperti itu kami pakai untuk berdiskusi soal anak-anak, pekerjaan, keluarga
besar..., dan yang lainnya, seraya mata saya terus lekat menatap matanya.
Lagi-lagi: selalu mencari saya...

Ah, hari-hari kami memang berlalu begitu cepat. Tiba-tiba pernikahan kami
sudah menjelang tahun ke 13. Limpahan kebahagian menyergap, meski kadang ada
saja sandungan yang harus kami hadapi, yang kami harap dapat lebih
mematangkan cinta kami....

"Sebenarnya, apa sih kesan terdalam Mas terhadap aku?" tiba-tiba saja
kata-kata tersebut meluncur dari mulut saya, malam itu. Saya sempat terkejut
sendiri.

Mas tersenyum.

Saya terdiam. Salah tingkah.

Sekitar kami hening. Hanya deru mesin mobil.

"Maaf ya, Mas..., gini hari nanyanya kayak orang pacaran...," kata saya
lagi.

Mas masih tersenyum. Saya makin salah tingkah.

"Kemarin ketika sholat di masjid, ustadz yang berceramah menyampaikan
tentang bidadari-bidadari yang akan diberikan Allah, yang akan menjadi istri
para lelaki beriman di surga nanti....

"Iya...terus? " tanya saya. Saya ingat hadits itu...berapa bidadari?
Puluhan?

"Bunda tahu, aku berharap aku tak mendapatkan para bidadari itu. Aku hanya
ingin bersama bunda, menjadi suamimu di dunia dan di surga nanti...."

Hening lagi. Beberapa mobil melintas, Sorot lampu bergantian menyergap
kami.

Lalu lidah saya kelu. Sebentar lagi airmata saya akan tumpah. Saya tahan
sebisa saya.

"Itulah kesanku untuk bunda...," ujarnya pelan. Ia tumpukan tangan kirinya
di atas tangan kanan saya. Membelai tangan saya lembut.

Saya tersenyum dalam diam. Kalau tak di dalam mobil, mungkin sudah saya
peluk ia erat-erat. Ah, ia tak perlu tahu, airmata saya jatuh juga....Itu
kata-kata paling romantis yang pernah saya dengar di dunia ini!

Malam ganjil di bulan Ramadhan yang berkah. Sebait doa saya kirim ke petala
langit. Semoga kami berdua dan anak-anak selalu bersama. Selalu bersama di
dunia dan di akhirat. Selalu bersama....ya, lebih lama dari selamanya...
amiiin....
{Helvy Tiana Rosa}


Baca lanjutannya Yuk...

Sabtu, 02 Mei 2009

"Kepada Siapa Syurga Didekatkan"

"Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)." (Qaaf: 31 - 33)

Keterangan dan kandungan ayat:

Firman Allah ta'ala "Dan didekatkanlah surga itu" maksudnya: Didekatkan jaraknya sehingga semua nikmat dan kesenangannya yang kekal dapat dilihat dengan kasat mata. Yaitu kepada mereka yang bertakwa dan mentaati semua perintahNya, yang meninggalkan segala bentuk syirik, baik kecil maupun besar.
Allah berfirman:

Maksud firman Allah: "Inilah yang dijanjikan kepadamu": adalah bahwa surga dan segala bentuk kesenangan yang diinginkan setiap diri, dan menyejukkan mata yang memandang yang ada di dalamnya adalah hal yang dijanjikan Allah kepada yang memiliki sifat-sifat berikut:


1. Selalu kembali kepada Allah pada setiap waktu dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, meminta tolong kepada-Nya, berdoa, takut, dan berharap kepada-Nya.

2. Memelihara semua apa yang diperintahkan Allah, dengan melaksanakannya secara ikhlas, dan menyempurnakannya sesempurna mungkin, dan menjaga hukum-hukumnya.


3. Takut kepada Yang Maha Pemurah ketika jauh penglihatan manusia: Yaitu takut kepada-Nya karena ma'rifahnya tentang Tuhannya, berharap kasih sayang-Nya, dan tetap melakukan semua itu pada saat sepi tidak dilihat oleh orang lain. Inilah takut yang sebenarnya. Adapun takut pada saat dilihat orang banyak bisa jadi hanya karena riya dan sum'ah. Tetapi ada kemungkinan yang dimaksud takut kepada Allah dalam keadaan gaib ini berarti seperti beriman kepada hal-hal gaib yang lain.

4. Yang datang kepada TuhanNya dengan hati penuh taubat dan segala keinginannya selalu tertuju kepada keridaanNya. Kepada orang-orang yang bertakwa dan berbakti ini dikatakan: "Masuklah dengan damai, itu adalah hari kekekalan.

Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 749 (cetakan Luwaihiq)



Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (4) (QS 17:80)

(4) Maksudnya: memohon kepada Allah supaya kita memasuki suatu ibadat dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya’ dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. Ayat ini juga mengisyaratkan kepada Nabi supaya berhijrah dari Mekah ke Madinah. Dan ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah s.w.t. supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari-hari berbangkit dengan baik pula.

'Ain Hawada'





Baca lanjutannya Yuk...

Senin, 06 April 2009

"Di Atas Sajadah Cinta"

Penulis: Habiburrahman El Shirazy


KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.


Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sungguh merugilah

orang yang mengotorinya...)



Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.



***



Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si

musyriqun bi dhau’

wal hubb al wariq

…”

(jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya

dan cinta yang mekar…)

***

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

“Bagaimana, kau terima atau…?”

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”



***

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

“Be…benarkah?”

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

***

Keesokan harinya.

Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.

“Tidak usah.”

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.


***

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

***

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”


***

Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

***

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.

Zahid,

Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

Wassalam

Afirah



===============================================================

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

Kepada Afirah,

Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )

Afirah,

Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”

Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.



Wassalam,

Zahid



===============================================================



Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :







Kepada Zahid,



Assalamu’alaikum,



Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.



Wassalam,

Afirah







===============================================================

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.






Baca lanjutannya Yuk...

Rabu, 18 Maret 2009

"Sebab Terjadinya Musibah dan CaraPenanggulangannya"

Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Al-Qur'anul Karim telah menyebutkan beberapa sebab terjadinya musibah, berikut bagaimana Allah menghilangkan musibah tersebut dari para hambaNya. Di antaranya adalah firman Allah,

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada ada diri mereka sendiri." (Al-Anfaal: 53)

"Dan apa saia musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syuuraa: 30)

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali jalan yang benar)." (Ar-Ruum: 41)

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang ke-padanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasa-kan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebab-kan apa yang selalu mereka perbuat." (An-Nahl: 112)

Ayat-ayat yang mulia ini memberi pengertian kepada kita bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Ia tidak akan menurun-kan bala' dan bencana atas suatu kaum kecuali karena perbuatan maksiat, dan pelanggaran mereka terhadap perintahperintah Allah. Lebih-lebih karena jauhnya mereka dari tauhid, serta tersebar luasnya berbagai perbuatan syirik di banyak negara-negara Islam. Hal yang menyebabkan timbulnya banyak fitnah dan ujian. Berbagai musibah itu tidak akan hilang kecuali dengan kembali mentauhidkan Allah, dan menegakkan syari'atsyari'atNya baik terhadap pribadi maupun masyarakat.











Al-Qur'an juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang berdo'a kepada Allah dengan mengesakanNya saat ditimpa musibah dan kesempitan. Tetapi ketika Allah membebaskan mereka dari musi-bah dan kesempitan tersebut, mereka kembali lagi kepada perbuatan syirik, menyembah dan memohon kepada selain Allah di waktu senang dan lapang.



Allah berfirman,



"Maka apabila mereka naik kapal, mereka mendo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepadaNya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (Al-'Ankabuut: 65)



Ironinya, mayoritas umat Islam saat ini, manakala ditimpa musi-bah, mereka memohon pertolongan kepada selain Allah, mereka me-nyeru,



"Ya Rasulullah, ya Syaikh Jailani, ya Syaikh Rifa'i, ya Syaikh Marghani, ya Syaikh Badawi, ya Syaikh Arab ... dan sebagainya."



Mereka menyekutukan Allah di masa sempit dan lapang, melanggar firman Allah serta sabda RasulNya. Sesungguhnya kekalahan umat Islam ketika perang Uhud adalah disebabkan oleh sebagian para pemanah yang tidak menta'ati perintah pemimpin mereka, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam . Anehnya, mereka heran atas kekalahan yang mereka derita.



Maka dengan tegas Al-Qur'an menjawab, "Katakanlah, 'Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." (Al-Imran: 165)



Ketika dalam perang Hunain, sebagian umat Islam berkata, "Kita tak akan terkalahkan oleh pasukan yang berjumlah sedikit." Dan hasil-nya adalah mereka kalah. Allah mencela mereka dalam firmanNya, "Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu men-jadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa'at kepadamu sedikit pun." (At-Taubah: 25)



Umar bin Khaththab menulis surat kepada panglima Sa'ad bin Abi Waqqash di Irak, "Janganlah kalian mengatakan, 'Sesungguhnya musuh kita lebih jahat daripada kita sehingga tak mungkin mereka mengalahkan dan menguasai kita'. Sebab terkadang suatu kaum di-kuasai oleh kaum yang lebih jahat dari mereka sebagaimana kaum Bani Israil dikuasai oleh orang-orang kafir Majusi disebabkan oleh perbuatan maksiat mereka. Maka, mohonlah pertolongan kepada Allah atas diri kalian, sebagaimana mohon pertolongan atas musuh-musuh kalian'."


Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuuh

Antara Meminta kepada Allah dan Meminta kepada Manusia
Jumat, 06 Maret 09

Muhammad bin Hamid pernah berkata kepada Abu Bakar al-Warraq, “Ajarilah saya suatu amalan yang dapat mendekatkan saya kepada Allah dan suatu amalan yang dapat mendekatkan saya kepada manusia!”
Abu Bakar al-Warraq menjawab, “Amalan yang dapat mendekatkanmu kepada Allah adalah öAnda memperbanyak doa (meminta dan memohon) kepada-Nya. Adapun amalan yang dapat mendekatkanmu kepada sesama manusia adalah Anda meninggalkan meminta-minta kepada mereka.”

aiN haWadaa




Baca lanjutannya Yuk...

Senin, 23 Februari 2009

Habatus Sauda,Madu dan Minyak Zaitun"

Sahabat, tahukah kalian bahwa penyakit itu ada dua macam, penyakit hati dan penyakit jasmani? Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an. Klasifikasi jenis penyakit ini mengandung hikmah ilahi dan kemukjizatan yang hanya bisa dicapai oleh kalangan medis di pertengahan abad ke-18. Sesungguhnya iman kepada Allah dan para Rasul, yaitu aqidah yang tertanam dalam hati, merupakan solusi pengobatan yang terpenting bagi hati, yakni bagi penyakit jiwa. Sedangkan untuk penyakit jasmani, kita bisa menengok metode pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan pada Allah, sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurofat.

1. Habbatus Sauda’ atau Jinten Hitam atau Syuwainiz

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh dalam habbatus sauda’ itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”. Habbatus sauda’ berkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal. Biji habbatus sauda’ mengandung 40% minyak takasiri dan 1,4% minyak atsiri, 15 jenis asam amino, protein, Ca, Fe, Na dan K. kandungan aktifnya thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Telah terbukti dari berbagai hasil penelitian ilmiah bahwa habbatus sauda’ mengaktifkan kekebalan spesifik/kekebalan didapat, karena ia meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel pembunuh alami. Beberapa resep penggunaan dan manfaat habbatus sauda’:

Ditumbuk, dibuat adonan dangan campuran madu, kemudian diminum setelah dicampur air panas, diminum rutin berhari-hari: menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kencing, memperlancar air seni, haid dan ASI.
Diadon dengan air tepung basah atau tepung yang sudah dimasak, mampu mengeluarkan cacing dengan lebih kuat.
Minum minyaknya kira-kira sesendok dicampur air untuk menghilangkan sesak napas dan sejenisnya.
Dimasak dengan cuka dan dipakai berkumur-kumur untuk mengobati sakit gigi karena kedinginan.
Digunakan sebagai pembalut dicampur cuka untuk mengatasi jerawat dan kudis bernanah.
Ditumbuk halus, setiap hari dibalurkan ke luka gigitan anjing gila sebagian dua atau tiga kali oles, lalu dibersihkan dengan air.
Untuk konsumsi rutin menjaga kesehatan, sebaiknya dua sendok saja. Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsinya bisa mematikan.

2. Madu atau ‘Asl

“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Beberapa hasil penelitian tentang madu:

a. Bakteri tidak mampu melawan madu

Dianjurkan memakai madu untuk mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti)

b. Madu kaya kandungan antioksidan

Antioksidan fenolat dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress)

c. Madu dan kesehatan mulut

Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi, mengobati sariawan dan gangguan mulut lain.

d. Madu dan kulit kepala

Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah diurut pelan-pelan selama 2-3 menit, madu dapat membunuh kutu, menghilangkan ketombe, memanjangkan rambut, memperindah dan melembutkannya serta menyembuhkan penyakit kulit kepala.

e. Madu dan pengobatan kencing manis

Madu mampu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes karena adanya unsure antioksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah sehingga kadar gula tersebut tidak terlihat tinggi. Madu nutrisi kaya vitamin B1, B5, dan C dimana para penderita diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini. Sesendok kecil madu alami murni akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Sebaiknya penderita diabetes melakukan analisis darah dahulu untuk menentukan takaran yang diperbolehkan untuknya di bawah pengawasan dokter.

f. Madu mencegah terjadinya radang usus besar (colitis), maag dan tukak lambung

Madu berperan baik melindungi kolon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat dan membantu pengobatan infeksi lambung (maag). Pada kadar 20% madu mampu melemahkan bakteri pylori penyebab tukak lambung di piring percobaan.

g. Selain itu madu amat bergizi, melembutkan sistem alami tubuh, menghilangkan rasa obat yang tidak enak, membersihkan liver, memperlancar buang air kecil, cocok untuk mengobati batuk berdahak. Buah-buahan yang direndam dalam madu bisa bertahan sampai enam bulan.

Madu terbaik adalah yang paling jernih, putih dan tidak tajam serta yang paling manis. Madu yang diambil dari daerah gunung dan pepohonan liar memiliki keutamaan tersendiri daripada yang diambil dari sarang biasa, dan itu tergantung pada tempat para lebah berburu makanannya.

3. Minyak Zaitun

“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Fungsi minyak zaitun:

Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.
Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.
Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
Mengurangi serangan kanker.
Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)
Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.
Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.
Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.
Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.

Sumber: Keajaiban Thibbun Nabawi, Aiman bin ‘Abdul Fattah
Metode Pengobatan Nabi SAW, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah



Baca lanjutannya Yuk...

Minggu, 22 Februari 2009

'Kisah Nabi Luth AS"

Nabiyullah Luth adalah salah seorang Nabi dan Rasul

Allah yang menghadapi suatu kaum yang berhati dan

bertabiat keras. Mereka memiliki penyimpangan akidah

sekaligus penyimpangan perilaku. Penyimpangan mereka

termasuk suatu keanehan dalam sejarah manusia.

Mereka adalah orang-orang yang menyukai sesama jenis.

Mereka melakukan kemunkaran di dalam perkumpulan

mereka. Maka Luth berjihad besar untuk melawan

mereka sehingga Allah menurunkan adzab kepada

mereka.

Hadis ini menyinggung sepenggal berita tentang Luth. Ia

hadir untuk menjelaskan sebagian yang tertera di dalam

Al-Qur'an dan menambah berita baru yang tidak terdapat

di dalamnya. Ia membela Nabiyullah Luth dari klaim para

pendusta yang menisbatkan sesuatu kepadanya di mana

Luth sepanjang umurnya berjuang untuk memeranginya

dan membongkarnya.



NASH HADIS
Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak Subhanahu wa

Ta’ala dari Ibnu Abbas berkata,
"Manakala utusan-utusan Allah datang kepada Luth, Luth

mengira mereka adalah para tamu yang menemuinya.

Maka Luth meminta mereka untuk mendekat dan mereka

duduk di dekatnya. Luth menghadirkan tiga orang

putrinya. Luth menyuruh putri-putrinya agar duduk di

antara para tamu dan kaumnya. Maka kaumnya datang

dengan tergopoh-gopoh. Ketika Luth melihat mereka,

dia berkata, 'Inilah putri-putriku. Mereka lebih suci

bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah

kamu mencemarkan namaku terhadap tamuku ini." (QS.

Hud: 78).



Kaumnya menjawab, "Bahwa kami tidak

mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu dan

sesungguhnya kamu mengetahui apa yang sebenarnya

kami kehendaki." (QS. Hud: 79).

Luth berkata, "Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolakmu

atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang

kuat, tentulah aku lakukan." (QS. Hud: 80)

Lalu Jibril menengok kepadanya dan berkata,

"Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu,

sekali-kali mereka tidak akan mampu mengganggumu."

(QS. Hud: 81).



Ibnu Abbas berkata, "Lalu Jibril

menghapus penglihatan mereka, maka mereka pulang

dengan lari tunggang langgang sampai mereka keluar

kepada orang-orang yang berada di pintu. Mereka

berkata, 'Kami datang kepada kalian dari sisi orang yang

paling mahir sihirnya. Dia telah menghapus penglihatan

kami.’ Maka mereka lari tunggang langgang sampai

mereka masuk di sebuah desa. Pada malam hari desa itu

diangkat sampai ia berada di antara langit dan bumi,

sehingga mereka mendengar suara-suara burung di

udara. Kemudian desa itu dijungkirbalikkan, lalu

keluarlah angin kencang kepada mereka. Barangsiapa

terkena angin itu, pastilah ia mati. Dan barangsiapa yang

kabur dari desa tersebut, maka ia akan dikejar oleh

angin tersebut yang berubah menjadi batu yang akan

membunuhnya."

Ibnu Abbas melanjutkan, "Lalu Luth pergi dengan ketiga

putrinya. Ketika dia sampai di tempat begini-begini di

kota Syam, putrinya yang besar meninggal, maka

keluarlah darinya mata air yang bernama Wariyah. Luth

terus berjalan hingga tiba di tempat yang dikehendaki

oleh Allah, dan putrinya yang termuda mati, maka

memancarlah dari sisinya mata air yang diberi nama

Ra'ziyah. Putri Luth yang masih hidup adalah yang

tengah."

TAKHRIJ HADIS



Diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak Alas

Shahihain, 2/375, dalam Kitab Tafsir (tafsir surat Hud).

Hakim berkata, "Ini adalah hadis shahih di atas syarat

Syaikhain, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya."

Tashih-nya disetujui oleh Dzahabi.



Hakim berkata, "Mungkin saja ada yang menyangka

bahwa hadis ini dan yang sejenisnya tergolong mauquf,

padahal sebenarnya bukan. Karena jika seorang sahabat

menafsirkan tilawah, maka ia adalah musnad (bersanad)

menurut Syaikhain."



PENJELASAN HADIS

Hadis ini memaparkan berita Luth yang dibawa oleh Al-

Qur'an. Hadis ini menyebutkan bahwa para Malaikat

datang kepada Luth dalam wujud para pemuda yang

tampan. Luth menerima mereka sebagai tamu dan

mengkhawatirkan mereka dari ulah kaumnya. Karena,

dia mengira mereka adalah para tamu yang singgah di desanya

dan mereka tidak mengenal perilaku

penduduknya yang rusak dan menyimpang.

Ketika para tamu itu memasuki rumah Luth, maka

kaumnya mengetahui kehadiran mereka. Lalu mereka

datang berbondong-bondong hendak mengganggu tamutamu

Luth dan melakukan perbuatan keji kepada

mereka. Maka Luth mendudukkan putri-putrinya di

antara para tamu dan kaumnya. Luth menawarkan

kepada mereka agar menikahi putri-putrinya, tetapi

mereka menolak. Mereka tetap bersikeras melakukan

perbuatan munkar seperti yang mereka niatkan. Luth

kesal bukan main dan dia berharap memiliki kekuatan

yang bisa membantunya dan melindunginya dari

ancaman kaumnya serta untuk menolak kejahatan

mereka.



Pada saat itu Jibril memberitahu Luth tentang siapa

sebenarnya mereka. Mereka adalah para utusan Allah.

Orang-orang lemah lagi bodoh itu tidak mungkin bisa

mengganggu atau menjamah mereka. Jibril memukul

mereka dengan sayapnya, sehingga mata mereka tidak

bisa melihat. Mereka kabur dalam keadaan takut dan

lemas seperti tikus dikejar kucing.



Pada akhir malam mereka diangkat ke langit. Bumi

mereka, kota mereka, hewan mereka, dan tanaman

mereka sampai Malaikat pun mendengar suara burung

mereka di udara. Kota mereka dibalik, yang atas

menjadi dibawah, dan diikuti oleh hujan batu panas. Tak

seorang pun bisa selamat.

Semua itu terdapat di dalam Al-Qur'an. Dan yang tidak

disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah bahwa keluarga

Luth yang selamat dari adzab Allah adalah ketiga

putrinya. Luth membawa keluarganya ke bumi Syam.

Putri sulungnya wafat di tengah perjalanannya ke Syam,

maka Allah mengeluarkan di sisinya mata air yang

bernama Wariyah. Kemudian Luth terus berjalan

menjauh kota tempat orang-orang yang disiksa, maka

putri bungsunya wafat dan di tempat dia wafat

memancarlah air yang bernama Ra'ziyah, dan yang

tersisa dari putri-putri Luth adalah putri yang tengah.



VERSI TAURAT
Siapa yang membaca Taurat, maka dia mendapati

banyak peristiwa tentang Luth dengan alur cerita yang

jelas. Dia akan mendapati bahwa Al-Qur'an

membenarkan banyak kejadian dan peristiwanya. Hanya

saja, di dalamnya terdapat penyimpanganpenyimpangan,

dan sebagian di antaranya tampak

sepele, sedangkan yang lainnya termasuk penyimpangan

yang besar dan berbahaya.

Di antara penyelewengan ini adalah klaim mereka bahwa

Malaikat yang mampir di rumah Ibrahim dan mereka

memakan suguhan makanan yang dihidangkan Ibrahim

kepada mereka. Ibrahim menghidangkan – sebagaimana

dikatakan oleh Taurat – daging anak sapi bakar dengan

susu yang berbusa. Para Malaikat makan hidangan

Ibrahim tersebut. (Safar Takwin, Ishah 18 poin 8)



"Manakala para Malaikat datang kepada Luth, mereka

juga makan roti dan madu yang dihidangkan." (Safar

Takwin, Ishah 19 poin 3)



Firman Allah membantah dan membatalkan klaim ini.

Firman-Nya, "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami

(Malaikat-Malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira.

Mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun'

(selamatlah). Maka tidak lama kemudian, Ibrahim

menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka

tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya,

Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan

merasa takut kepada mereka.



Malaikat itu berkata,

'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah

(Malaikat-Malaikat) yang diutus kepada kaum Luth'."

(QS. Hud: 69-70)



Para Malaikat tidak menjulurkan tangan mereka ke

makanan, sehingga Ibrahim merasa aneh dengan sikap

mereka, maka terbersit rasa takut dari diri mereka.

Orang-orang yang tidak makan makanan tamu biasanya

adalah para musuh yang datang menginginkan

keburukan. Oleh sebab itu, mereka menjelaskan tentang

jati diri mereka kepada Ibrahim. Jelaslah alasan mereka,

karena tabiat para Malaikat adalah tidak makan dan

tidak minum.

Di antara penyimpangan Taurat yang dikoreksi oleh Al-

Qur'an adalah bahwa jumlah Malaikat lebih dari dua,

tidak seperti yang dinyatakan oleh Taurat bahwa

Malaikat hanya dua saja. Di antara poin yang diakui

kebenaran oleh hadis adalah bahwa Luth meletakkan

putri-putrinya di antara para tamunya dan kaumnya

ketika mereka masuk ke rumahnya.



Taurat menyebutkan bahwa Luth keluar kepada kaumnya

di luar rumah dan menutup pintu di belakangnya.

Penyimpangan Taurat yang paling berbahaya adalah apa

yang dinisbatkan kepada Nabiyullah Luth secara dusta

dan palsu. Mereka mengklaim bahwa Luth yang

menghabiskan seluruh umurnya untuk memerangi

perbuatan keji telah berzina dengan kedua putrinya.

Mereka mengklaim bahwa kedua putri Luth bersekongkol

setelah dia keluar dari desa yang diadzab dan tinggal di

sebuah gua di gunung dekat kota Shauar. Kedua putrinya

itu khawatir jika keturunan bapaknya akan terputus,

maka keduanya menyuguhkan khamr kepadanya selama

dua malam berturut-turut sampai dia teler. Selanjutnya,

putrinya yang tertua tidur bersamanya di malam

pertama dan diteruskan dengan adiknya di malam

berikutnya, hingga keduanya hamil darinya. Dari

keturunan putri pertamanya adalah Muabiyin dan dari

keturunan kedua adalah Amuniyin.



Demi Allah, mereka telah berdusta. Rasul-Rasul Allah

terjaga dari perbuatan keji. Tidak mungkin Allah

membiarkan Nabi-Nya terjerumus ke dalam perbuatan

keji seperti ini. Justru dialah orang suci yang memerangi

kemunkaran ini. Tidak mungkin putri-putri Luth yang

shalihah yang telah diselamatkan oleh Allah dari kota

orang-orang yang diadzab karena kesuciannya,

melakukan perbuatan keji seperti ini dengan bapaknya.

Mustahil dan tidak mungkin. Akan tetapi, jiwa-jiwa kotor

selalu ingin mengotori orang-orang baik lagi suci.

Barangsiapa yang mengetahui sifat-sifat para Nabi dan

keadaan mereka, maka dia akan meyakini bahwa semua

ini hanyalah fitnah dusta. Barangsiapa membaca kisah

Luth di dalam Al-Qur'an dengan kisah yang terperinci,

maka keyakinannya pasti bertambah bahwa para

penyeleweng dalam Taurat telah berdusta.



Hadis ini datang dengan memaparkan perkara yang

sebenarnya. Luth tidak memiliki dua orang putri sebagaimana yang diklaim oleh Taurat yang telah

diselewengkan. Akan tetapi dia mempunyai tiga putri.

Luth tidak tinggal di gua, tetapi dia pindah ke bumi

Syam. Di tengah perjalanannya dua putrinya wafat dan

yang tersisa hanya satu..



Perincian yang terkait dengan putri-putri Luth dalam

Taurat adalah batil lagi palsu. Pembaca hadis mendapati

seolah-olah hadis ini dipaparkan untuk membantah

tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepada Luth.

Oleh karena itu, hadis ini datang untuk membuka hakikat

yang dengannya Nabiyullah Luth terbebas dari tuduhan

dusta orang-orang dzalim.



PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebutkan

di dalam hadis tentang sebagian berita yang

berkaitan dengan Luth yang tidak disinggung oleh Al-

Qur'an.



2. Koreksi hadis terhadap penyelewengan Taurat

sebagaimana Al-Qur'an juga mengoreksinya.



3. Nabi Luth tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh

para penyeleweng Taurat.



4. Dustanya klaim para penyeleweng Taurat bahwa

Muabiyin dan Amuniyin adalah anak-anak zina.



5. Keterangan tentang besarnya dosa homoseksual.

Keterangan tentang besarnya hukuman yang

menimpa para pelaku dosa ini dan bahwa hukuman

ini tidak jauh dari orang-orang yang melakukan

perbuatan kaum Luth.






Baca lanjutannya Yuk...